Saturday, 24 October 2009

Brainware VS Software

UU Cyber yang telah disahkan Pemerintah menerapkan tiga level yaitu masyarakat, software dan jaringan provider. Dan Pemerintah telah membentuk Indonesia-Security Incident Response Team on Internet Infrastruktur (ID-SIRTII ; semacam badan pengawas internet Indonesia) Khusus software, program yang satu ini memang sengaja di produksi dan dibagikan secara gratis untuk meminimalisir tayangan yang kurang senonoh. Ya, kurang senonoh. Tetapi, seberapa efektifkah program ini bekerja, kita semua belum tahu. Apakah program ini bersifat preventif atau kuratif ?, kalau jawabannya preventif berarti program ini masih dalam masa percobaan dan kalo jawabannya kuratif berarti masalah yang dihadapi sudah cukup parah.Berbicara masalah software tidak akan terlepas dari kata hardware. Software merupakan program yang menunjang kerja hardware untuk mempermudah pekerjaan . Selain istilah di atas, ada istilah yang lebih penting lagi yaitu brainware (Sumber Daya Manusia pengguna komputer). Ketika software diciptakan, brainwarelah yang berjasa pada proses penciptaannya. Bentar, aku pasang headset dulu mo dengerin lagunya ROTRA.-Jagal Pabu


Kita semua tau bahwa software akan mengalami perubahan (update) guna memcapai titik yang diharapkan. Lain halnya dengan Brainware, ketika sebuah chip ( IQ ; Kecerdasan Intelektual, EQ ; Kecerdasan Emosi, dan SQ ; Kecerdasan Spiritual) ditanamkan ke otak kita, sebuah kejadian yang luar biasa akan terpatri di diri kita. Software perlu update untuk mengikuti perkembangan jaman begitu pula dengan brainware. Tanpa mengasah ketiga komponen diatas sangat mustahil bagi brainware untuk berbuat kemaslatahan di bumi ini.
Sedikit berbagi pengalaman tentang komponen diatas (software, hardware, brainware). Software tetaplah sebagai piranti lunak yang memudahkan kita untuk bekerja. Tetapi, memudahkan dalam urusan apa? Ketika mau pergi ke luar kota bersama keluarga, aku sengaja menitipkan laptop ke teman sekantor demi keamanan. Temanku tau persis bahwa laptopku isinya A – Z, aku percaya banget, mau dipake ngetik atau main game terserah. Dua hari bepergian sudah cukup untuk ngrefresh otak. Sebelum pulang, aku sempatkan mampir ke rumah teman untuk mengambil laptop n berbagi oleh2. Setiba di rumah aku coba liat isi laptop, he…he…he…. ternyata aktivitas yang dilakukan temanku tidak sebatas ngetik dan main game tapi lebih dari itu. 1. Window Media Player, file dengan ext. Dat. dan avseq terlihat dan meninggalkan jejak. 2. File foto biasa, istimewa ‘n spesial (maaf kaya’ menu martabak) terlah terbuka. 3. Aku dapat melihat aktivitas hentakan keyboard temanku selama dalam pemakaian. Keesokan harinya aku berusaha menanyakan film yang ditontonnya, seketika itu temanku terkejut,” Ah, nonton film apa? Kamu ada2 aja”. T’rus fotonya udah dapet blom? Seraya berpura2 tidak tau, dia mejawab,”Foto yang mana lagi?”. Dan yang ketiga sengaja aku tidak bertanya karena hanya aku yang tau. Secara sederhana, di kompi atau laptop telah terpasang secara auto. untuk mencatat/merekam serangkaian peristiwa (baca; log). Temanku tau persis isi laptopku A – Z tetapi dia tidak ngeh (baca; tau) software yang telah terinstall di laptop. Salah satu software itu ialah keylogger. Ya, Semua itu kembali pada brainware.

No comments: